Skip to main content

16 Mei 1929, Academy Awards I



Tepat 84 tahun yang lalu, atau pada 16 Mei 1929, diselenggarakan Academy Awards untuk yang pertama kalinya. Acara tersebut diinisiasi oleh  Academy of Motion Picture Arts and Sciences/AMPAS (Akademi Seni dan Ilmu Motion Picture), serta bertempat di Blossom Room, Hollywood Roosevelt Hotel, LA, California. Presiden Direktur dari AMPAS sendiri, Douglas Fairbanks yang memandu acara. Selain menjadi Academy Awards yang pertama, hingga saat ini acara tersebut merupakan satu-satunya Academy Awards yang tidak disiarkan baik oleh radio maupun televisi.


Sekitar 250 orang menghadiri acara tersebut, yang terbagi dalam 36 meja. Pada kesempatan tersebut, 12 kategori diperebutkan oleh para nominator. Uniknya,  para pemenang dari tiap kategori sendiri telah diumumkan tiga bulan sebelumnya. Di samping itu, beberapa nominasi diumumkan tanpa merujuk pada suatu film tertentu, seperti nominasi bagi Ralph Hammeras dan Nugent Slaughter dalam kategori Engineering Effects. Seorang aktor ataupun sutradara juga dapat memenangkan nominasi dalam satu kategori untuk judul film yang berbeda, seperti yang diraih oleh Emil Jannings, yang menyabet penghargaan Best Actor dalam dua filmnya, yaitu The Way of All Flesh dan The Last Command.

Pada penyelenggaraan Academy Awards I ini, teknologi suara dalam film baru saja diperkenalkan, menggeser kepopuleran "film bisu". Namun, film The Jazz Singer dari Warner Bros, salah satu film yang "berbicara" pertama kali, tidak diperbolehkan untuk masuk nominasi, karena persaingan akan dianggap tidak adil. Film hasil karya stradara William Wellman, Wings, berhasil memenangkan kategori Best Picture, serta menjadi satu-satunya "film bisu" yang menyabet gelar tersebut hingga saat ini. Selain itu, aktor legenda Charlie Chaplin yang sebelumnya masuk nominasi Best Actor, Best Writer dan Best Comedy Director untuk film The Circus, memperoleh Honorary Awards, setelah namanya dihapus dari kategori-kategori tersebut. Selain Chaplin, rumah produksi Warner Bros juga memperoleh penghargaan yang sama, dalam terkait produksinya The Jazz Singer serta sebagai pioneer dalam pengembangan film yang "berbicara".


Berikut Nominasi dan Pemenang Academy Awards I
(pemenang disebutkan pertama)


Outstanding Picture
Lucien Hubbard (Paramount Pictures) – Wings
Howard Hughes (Paramount Pictures) – The Racket
William Fox (Fox Film Corporation) – Seventh Heaven

Unique and Artistic Production
William Fox (Fox Film Corporation) – Sunrise: A Song of Two Humans
Merian C. Cooper dan Ernest B. Schoedsack (Paramount Pictures) – Chang: A Drama of the Wilderness
Irving Thalberg (MGM) – The Crowd

Best Director, Comedy Picture
Lewis Milestone – Two Arabian Knights
Ted Wilde – Speedy

Best Director, Dramatic Picture
Frank Borzage – Seventh Heaven
Herbert Brenon – Sorrell and Son
King Vidor – The Crowd

Best Actor in a Leading Role
Emil Jannings – The Last Command dan The Way of All Flesh
Richard Barthelmess – The Noose dan The Patent Leather Kid

Best Actress in a Leading Role
Janet Gaynor – Seventh Heaven, Street Angel dan Sunrise: A Song of Two Humans
Louise Dresser – A Ship Comes In
Gloria Swanson – Sadie Thompson

Best Writing, Original Story
Underworld – Ben Hecht
The Last Command – Lajos Bíró

Best Writing, Adapted Story
Seventh Heaven – Benjamin Glazer
Glorious Betsy – Anthony Coldeway
The Jazz Singer – Alfred A. Cohn

Best Cinematography
Sunrise: A Song of Two Humans – Charles Rosher dan Karl Struss
The Devil Dancer – George Barnes
The Magic Flame – George Barnes
Sadie Thompson – George Barnes

Best Art Direction
The Dove dan Tempest – William Cameron Menzies
Seventh Heaven – Harry Oliver
Sunrise: A Song of Two Humans – Rochus Gliese

Best Engineering Effects
Wings – Roy Pomeroy
(No specific film) – Ralph Hammeras
(No specific film) – Nugent Slaughter

Best Writing, Title Writing
(No specific film) – Joseph Farnham
(No specific film) – George Marion, Jr.
The Private Life of Helen of Troy – Gerald Duffy



Sumber Gambar : Google Images

Comments

Popular posts from this blog

Pojok Budaya Menjaga Tradisi

Di zaman modern yang serba canggih seperti sekarang ini, mainan anak tradisional sangat jarang bisa ditemui karena banyak mainan modern yang kian digemari anak-anak. Kondisi seperti itu, sebenarnya tidak perlu terjadi karena dolanan atau mainan anak tradisional masih dapat dilestarikan asalkan masyarakat mau melestarikan dan memelihara mainan tradusional yang termasuk seni budaya asli Indonesia.
   Di Dusun Pandes, Panggungharjo Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta, dikenal masyarakat luas sebagai kampung dolanan anak tradisional. Beberapa warganya menggantungkan hidupnya dari membuat mainan anak tradisional, mainan yang seakan sudah hilang ditelan modernisasi. Dusun Pandes memang terkenal sebagai kampung dolanan sejak pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Warga Dusun Pandes membuka kampung mereka bagi wisatawan yang ingin mengetahui bagaimana permainan tradisional Jawa.
   Dahulu, setidaknya ada sekitar 50 perajin mainan anak tradisional. seperti ki…

Kemeriahan Pasar Malam Sekaten Jogja

Banyak orang yang menantikan bulan Desember, khususnya Masyarakat Jogja dan sekitarnya. Tahu tidak kenapa ? mereka menanti “Sekaten”. Apa itu Sekaten. Apa hubungan Sekaten sama Jogja? Sekaten memang salah satu hal yang era hubungannya dengan Jogja. Sekaten identik dengan pasar malam, tempat  hiburan untuk rakyat. Sekaten adalah salah satu tradisi khas yang dilaksanakan oleh keraton Yogyakarta.

Nama sekaten sendiri berasal dari kata “syahadatain” yang berarti dua kalimat syahadat. Konon Sekaten berawal saat zaman Kerajaan Demak, saat raja pertamanya yaitu Raden Patah menyiarkan agama Islam. Saat itu masyarakat Jawa mayoritas masih menganut agama Hindu dan sebagian lagi beragama Budha. hingga sekarang dijadikan acara rutin untuk hiburan masyarakat Jogja. Sekaten tahun ini digelar selama 40 hari.

Pasar Malam Sekaten adalah sebuah acara tahunan yang diadakan di Alun-alun utara dan diadakan selama satu bulan penuh. Menurut salah satu pengunjung Pasar Malam Sekaten, Karunia Arofah menyatak…

Sistem Pemerintahan Indonesia - Demokrasi Konstitusional

A. Pengertian Sistem Pemerintahan Indonesia
Sistem merupakan kata serapan dari Bahasa Inggris, system, yang memiliki arti antara lain :

a  set of things working together as parts of a mechanism or an interconnecting network; a complex whole
seperangkat hal atau benda yang bekerja sama sebagai bagian dari sebuah mekanisme atau sebuah jaringan yang saling terhubung; bagian jaringan dari keseluruhan
a set of principles or procedures according to which something is done; an organized scheme or method
seperangkat prinsip atau prosedur dalam melakukan sesuatu; skema atau metode yang terorganisir
the prevailing political or social order
ketentuan politik atau sosial yang berlaku [1]

Sedangkan, pengertian pemerintahan sendiri dapat ditinjau dari tiga aspek, yaitu dari segi kegiatan (dinamika), struktural fungsional serta dari segi tugas dan wewenang.[2] Dari segi kegiatan (dinamika) pemerintahan dapat diartikan sebagai segala  kegiatan atau usaha yang terorganisasikan, yang bersumber pada kedaulat…